Pelajaran dari Buku Favorit – Part 3 (end)

15 Jan

Bagian tiga, masih menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup dari salah satu judul buku penulis favorit saya, Tere-Liye.

Apa Itu Takdir?

Salah satu iman (kepercayaan) kita adalah iman kepada qadha-qadar. Percaya pada takdir. Percaya bahwa takdir itu memang ada (haq).

Saya pernah dengar, entah di mana, bahwa saat ruh manusia ditiupkan dari Tuhan dengan perantaraan malaikat, saat itu pulalah takdir hidup dilukiskan.

Dari berbagai seminar, buku, artikel dari pekerjaan yang sedang booming dewasa ini, motivator ( yang kadang terlalu optimis hingga terkesan sombong menurut saya ), sering dikatakan bahwa kitalah yang menentukan takdir, jika pun bukan begitu maka mereka berkata, kitalah yang mampu mengubah takdir. Apalah itu semua, wallahu ‘alam.

Saya hanya berpegang satu kalam Tuhan, “Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves” (QS Ar Ra’du:11). Jelas, Tuhan tak akan mengubah keadaan suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengusahakan perubahaan itu sendiri. Jangan ditambahi, jangan dikurangi. Biarlah arti dan maknanya sama persis dengan kalimat Tuhan.

Apapun takdir kita, alangkah indahnya jika pada akhir kehidupan kita di dunia, kita memperoleh apa yang menjadi tujuan hidup kita. Manusia akan memperoleh apa yang diusahakannya, jika Allah menghendaki. Maka carilah tujuan hidup tertinggi dan terindah. Hidup dan mati sia-sia adalah rugi besar, naudzubillahi min dzalik .

Maka tetaplah kuat, tetaplah fokus pada tujuan hidup. Because life is nothing without the the purpose. Karena Tuhan Maha Mendengar, tak perlulah kita menggembar-gemborkan tujuan kita, keinginan kita, apa yang sedang kita usahakan, apalagi mempengaruhi tujuan orang lain karena tujuan ia tak sama dengan kita. Berbagi kebaikan, berbagi ilmu disukai Tuhan, jangan sampai tergelincir lebih dari itu. Insya Allah, mari kita belajar fokus bersama.

Seorang ustadz pada sebuah kesempatan mabit(bermalam di sebuah masjid) yang indah karena Allah, menjelaskan bahwa manusia mengalami 2 kali mati, 2 kali hidup.

Mati -> Ditiupkannya ruh hingga hidup di dunia -> Mati dan terkubur di perut bumi -> Hidup lagi di hari Hisab (perhitungan).

Jadi, di manakah tujuan itu harus diletakkan dan di tahap manakah kita bisa mengusahakannya? You’ve got the answer, right?

Mengapa Tetap Kosong Meski Punya Banyak?

Kita seringkali menyangka alangkah menyenangkannya menjadi dia, yang begini dan begitu, sedang saya tidak.
Ha, saat kita mendapat semua yang “dia” miliki apakah lantas kita bahagia?
Kosong adalah saat saya punya lebih dari cukup materi untuk kehidupan saya sendiri, membantu adik-adik saya, mengubah style dandan, makanan, hingga style of life, tapi saat semua digenggam, terasa biasa saja, kosong.

Satu tahun pencarian jawaban mengapa tetap kosong akhirnya saya temukan dengan bantuan teman-teman saya yang dengan ijin Tuhan menjadi teman sharing, berbagi ilmu, mencari bersama. Alhamdulillah, pertanyaan itu sudah mampu saya jawab hari ini (dan anehnya, jawaban saya sama dengan apa yang ditulis Tere-Liye dalam bukunya).

Kosong adalah saat kita tak mampu bersyukur. Terjebak di kedalaman keinginan duniawi. Ingin begini, setelah itu ingin yang itu, kemudian yang di sebelah sana. Tak selesai, tak akan pernah. Seperti anak kecil yang selalu iri dengan barang mainan temannya, akan selalu iri.

Syukur adalah ilmu yang dibawa Rasulullah yang berkata betapa indahnya Islam, semuanya adalah kebaikan. Saat bahagia bersyukur, saat bersedih bersabar. Tanpa disadari syukur itu ilmu wajib. Indah. Insya Allah.
Mengapa Hidup Harus Merasakan Sakit?

Ah, apa benar memang sakit? Saat kita merasa sangaaaat bahagia, ah, apa benar sebahagia itu?

Hidup itu relatif. Titik.

Ada yang bilang, rasakan sakit agar dapat merasakan bahagia.

Tapi sebenarnya semuanya relatif. Kita terbiasa membesar-besarkan masalah dan mengecilkan apa yang sebenarnya harusnya dipandang besar. Memandang sakit padahal ada kebaikan di baliknya. Merasa sakit padahal masih ada yang lebih tidak beruntung. Mengeluh sakit padahal orang lain yang sama persis keadaannya merasa itu biasa-biasa saja. Nah?

Sama seperti jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Pandai-pandai bersyukur saja. Saat di atas, lihat yang di bawah, saat di bawah, jangan putus asa pada rahmat Tuhan, ada harapan seperti yang ada di atas. Cycling. “Life is a wheel”. Sudah bosan dengar quote tersebut, kan?!

Ending
Semoga bermanfaat. Saya hanya ingin sharing. Insya Allah.

Pelajaran dari Buku Favorit – Part 2

15 Jan

Pada bagian dua ini, masih dari penulis yang sama, Tere-Liye. Ada pelajaran yang ingin saya sampaikan dari hasil membaca.

Untuk Apa Hidup yang Monoton?

Terserahlah mau bilang apa pada hidupmu. Saya belajar setiap hari, saya menemukan hal-hal baru setiap hari, hidup saya tak monoton. Atau bilang saya adalah pengusaha, saya sangat terbiasa dengan ketidakpastian, setiap hari ada saja yang berubah, hidup saya bervariasi. Apalah itu, akuilah bahwa sebenarnya ada bagian yang monoton. Minimal adalah saat bagun tidur, beranjak tidur, dan sholat lima waktu. Mau dipungkiri juga terserah. Itu pemikiran saya. Dan saya yakin tak pernah ada manusia tak pernah merasakan masa-masa monoton, minimal saat dia masih bersekolah.

Mengapa harus merasakan hidup monoton? Karena dari kehidupan monoton ada variasi-variasi dari kecil hingga besar setiap harinya. Tuhan menciptakan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun, jumlah tahun umur kita, tapi tak ada dua hari pun yang sama persis kejadiannya. Di sinilah variasinya.

Dan variasi ini mengandung hukum kausal, sebab-akibat. Dari Bapak JamilAzzaini saya dapatkan  pemahaman bahwa energi dapat diciptakan, tak dapat dihancurkan, yang ada adalah mengubahnya jadi bentuk lain. Kala di sekitar kita yang ada adalah energi positif, maka itulah yang keluar dari diri kita, energi positif. Suatu saat, energi positif yang kita keluarkan akan kembali pada diri kita, kausalitas.

Saat kita sedang marah, atau sedih dan mengubah energi positif menjadi energi negative, maka ini pun akan kita peroleh di suatu saat nanti, energi negative yang kembali.

Melakukan kebaikan akan kembali mejadi kebaikan bagi pelakunya, begitu pula dengan melakukan keburukan.

Sama dengan cara berpikir Tere-Liye dalam bukunya. Semonoton apapun kita dalam hidup ini, bahkan tua renta tak bisa apa-apa, tak berguna, kita memiliki sebab dan akan menjadi akibat bagi kehidupan orang lain. Misalnya dengan merawat ketua-rentaan kita yang tak mampu apa-apa ini, seseorang mewarat dengan tulus ikhlas dan kemudian ia diganjar surga oleh Tuhan. See? Tak ada yang sia-sia. Hidup saya juga, hidupmu juga, apa pun juga yang ada di langit dan di bumi. Tuhan Maha Tahu. Kami hanya bisa memikirkan.

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Apa Hidup Ini Adil?

Seringkali kita lupa pada kerelatifan hidup di sana-sini hingga masih mempertanyakan apa hidup ini adil. Masih melihat pemalas tapi tetap saja kaya sedang saya sebaliknya atau perjuangan saya jauh lebih banyak disbanding dia, tapi saya tak dapat apa-apa, macam-macam.

Saya selama beberapa tahun terakhir sudah berhenti bertanya macam ini. Karena semakin dewasa semakin saya menemukan bukti-bukti bahwa hidup ini adil. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana akibat yang dialami orang-orang berdasar perbuatannya dulu.

Keadilan dalam hidup saya yang tak mungkin saya pungkiri adalah, hingga sekarang saya masih punya ayah-bunda dengan cinta yang tak pernah habis, yang masih saja memperlakukan saya seperti anak kecil meski berkali saya bilang saya bisa sendiri. Sudah orang teman yang mengatakan saya manja, karena setiap kali menelepon mama-papa, saya menceritakan semua yang saya alami, gamblang dan detil. Dan mama-papa saya menjawab seperti sahabat sendiri. Saya sangat bahagia, kebahagiaan ini menghapus semua rasa sakit yang pernah ada. Ya, hidup ini adil bagi saya.

Cobalah hitung (jika mampu) jumlah nikmat Tuhan dan jumlah keburukan yang ada selama hidup. Meski saya yakin kita tak mampu menghitung, sebenarnya semuanya impas. Apa yang kita peroleh hari ini adalah hasil perbuatan kita yang lalu-lalu. Dan apa yang kita usahakan hari ini menentukan siapa kita esok hari.

Inilah yang sedang saya kerjakan. Mendokumentasikan pemikiran-pemikiran bagus, bukti dan Firman Tuhan, agar selalu dapat saya ingat di esok hari.

Pelajaran dari Buku Favorit – Part 1

15 Jan

Pernah punya buku favorit atau penulis favorit?

Selama beberapa tahun terakhir saya mulai intens mencari buku-buku bagus, saya dapatkan salah satu penulis yang menarik. Tulisannya bagus sekali, sangat mengalir dan idenya original. Pernah mendapatkan buku yang baru saja membaca sudah langsung merasa tersedot dalam pusaran seperti ada di sebuah lorong dan mengikuti kisahnya hingga saat mendongak dan berhenti membaca baru sadar di mana sebenarnya dari tadi berada. Tere-Liye nama penulis itu. Dua bukunya yang saya baca adalah Ayahku (Bukan) Pembohong dan Rembulan Tenggelam di Matamu. Saya percaya keberadaan Tuhan dalam hati membuat apa yang kita kerjakan menjadi bermakna dan berharga, salah satunya dengan tulisan.

Saya ingin mencuplik satu-dua cerita dalam bukunya yang sarat ilmu dan pemikiran di sini, namun sejujurnya saya takut mungkin saja yang seperti ini bisa melanggar kode etik dan semacamnya. Namun ketakutan saya rupanya jauh lebih kecil dibanding semangat saya untuk sharing ilmu dari buku-buku Tere-Liye yang saya baca, semoga bermanfaat. Insya Allah hanya ingin berbagi untuk kebaikan bersama.

Ayahku (Bukan) Pembohong

Perumpamaan Penjagaan Hati

Ada secuil pertanyaan yang saya mengerti namun tidak mampu terlontar dalam kata-kata apalagi kalimat. Saat sedang sedih, sebentar tertawa, sebentar sedih lagi, dan saya merasa dipermainkan. Pernah merasa bahwa sepotong hati atau jiwa atau apalah itu namanya sangat mempermainkan hidup? Saya pernah. Tapi saya tak pernah bisa bertanya pada Tuhan, diam saja. Karena saya tak tahu bagaimana caranya bertanya, karena mungkin yang seperti ini hanya perasaan saya saja. Eh, saya temukan jawabannya di salah satu buku Tere-Liye, dengan gaya bahasa cerita.

Alkisah seorang pemuda pergi mencari seorang sufi, bertanya pada seorang guru sufi di sana. “Apakah hakikat kebahagiaan hidup itu? Sebenarnya apa sih bahagia itu?”
Kalau di negara tempat kita hidup ini, bahagia seringkali identik dengan uang banyak, istri banyak, anak pintar, ada di kota dan negara yang berbeda setiap malamnya, selebritis, macam-macam. Sangat relatif. Sufi yang banyak berpikir tentang filsafat dan makna kehidupan ini menyuruh pemuda tersebut membuat sebuah danau di tanah yang amat luas. Bukan asal danau, airnya harus jernih sejernih mata air.

Memangnya dengan membuat danau pertanyaan pemuda tersebut bisa terjawab?

Seperti halnya sifat pemuda, walau tak mengerti, tetaplah berangkat. Pemuda itu mulai mengeruk tanah, berkubang setiap hari. Proses pengerukan baru selesai saat kedalaman telah mencapai 3m dan dengan luasan seluas lapangan bola. Proses selanjutnya adalah membuat parit-parit dari mata air yang ada di hutan, mengalirkannya ke lubang danau. Jadilah, danau.

Sang guru akan datang menengok esok hari. Tapi malam ini hujan turun. Sumber mata air dari danau jadi kotor. Saat sang guru datang esok harinya, yang dilihatnya adalah danau yang airnya keruh. Sang guru member pemuda tersebut kesempatan. Ia akan datang menengok setahun lagi.

Pemuda itu membuat saringan di setiap parit agar air keruh dari hutan jadi jernih saat masuk ke danau. Tidak setitik pun air keruh boleh masuk ke dalam lubang danau.

Setahun berlalu, sang guru datang menjenguk, pemuda itu tersenyum senang dengan hasil karyanya. Sang guru meraih sepotong bambu panjang, menusuk-nusuk dasar danau. Lantai danau yang terbuat dari tanah langsung mengepul mengeluarkan lumpur kecoklatan. Dalam sekejap, danau tak jernih lagi. Sang guru meminta pemuda itu berpikir lagi dan akan datang setahun lagi.

Selanjutnya pemuda itu mengeruk lagi dan lagi, jauh lebih dalam hingga menyentuh dasar bebatuan, menyentuh mata airnya. Tiga tahun pengerukan itu baru selesai. Semua parit akhirnya ditutup. Danau itu hanya mengalirkan air dari mata airnya sendiri.

Sang guru datang menengok. Ia tertawa melihat danau berair jernih seperti air mata. Tidak mengepulkan tanah lumpur meski ditusuk-tusuk dasarnya, dengan segera cepat jernih kembali meski ada parit yang bocor.

Itulah hakikat kebahagiaan hidup. Membersihkan dan melapangkan hati. Kebahagiaan sejati datang dari mata air diri sendiri, bukan dari luar. Kebahagiaan dari luar dengan cepat akan hilang lagi. Berbeda dengan mata air yang dimiliki sendiri. Hati dilatih menjadi lapang dan dalam, hingga bahkan saat musuh yang menyakiti mendapat kebahagiaan pun, kita ikut bahagia, karena kelapangan hati. Hati dilatih menjadi cepat jernih kembali meski ada kebocoran parit. Kabar buruk tidak akan membuat sedih, cepat bahagia kembali dari mata air sendiri. Itulah kebahagiaan sejati. Caranya dengan melatih hati.

Bertemu Malaikat-Mu

13 Jan

13 Jan 2012, 6:43 pm

Ya Tuhan.. kurasa aku baru saja bertemu dengan salah satu malaikat-Mu.

Aku bahagia sekali.

Terjerembab, tergeletak tak terpikir untuk sedikitpun bangun, dari sholat ashar yang sangat terlambat pada jam setengah 5 sore di musholla kantor.
Berpikir tentang betapa sesaknya perlakuan orang-orang di kantor yang busuk, entah generasi tua maupun generasi mudanya sama saja.
Berpikir tentang betapa capeknya bekerja itu, kepenatan lebih pada pertahanan komitmen di mental dibanding energi berpikir untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendiri.
Berpikir mungkin saja akan berakhir seperti ini, selamanya.

Kemudian datanglah seorang agent call center.
Sudah sering kulihat dan tiap kali kulihat selalu suka senyumnya.
Kurasa dia yang menjaga sholatnya selalu memiliki senyum paling cerah dan menceriakan.

Saat dia datang, aku langsung bangkit dari tidur yang masih bermukena.
Saat kutanya kenapa kemari, dia bilang tiap habis ashar ke musholla utk menunggu maghrib.
Karena rumahnya yang di Depok tak akan cukup waktu 2 jam ditempuh dengan motor.
Artinya, dia pasti akan kehilangan maghribnya jika dia tak menunggu maghrib di kantor.

Entah darimana asalnya, dia bertanya tentang apakah aku pegawai atau outsourcing di PLN.
Masuk PLN sejak kapan dan diapain aja sebelum kerja di PLN.
Di mana saja ditempatkan sebelum di Kantor Distribusi, dll dll.

Ngelantur. Benar-benar ngelantur.
Aku cerita tentang kehilangan ingatan saat di kopassus, masa-masa OJT, bolak-balik pindah kosan karena bolak-balik pindah kantor.
Aku cerita tentang betapa takutnya lulus kuliah kemudian menganggur, sehingga pekerjaan apa pun diterima.
Tentang impianku pada adik-adikku.
Tentang optimisme mama-ku akan keberhasilanku, selalu, tak pernah pudar sedetik pun.
Tentang pencarian beasiswa, biaya motor, semua hal besar saat itu yang kini terasa sangat kecil.
Kalau uangku saat ini digunakan untuk membiayai biaya hidupku dan keluarga ku dulu, aku pasti tak akan sering menangis saat itu.

Ya Tuhan.. dia seperti malaikat pengingat.
Padahal aku cerita panjang lebar tanpa memperhatikan perasaannya sebagai outsourcing dan sama-sama S1.

Tapi dia seperti mengingatkanku kembali masa-masa itu, perjuangan-perjuangan itu.

Hhh.. aku memang punya short-term memory lost, amnesia dan semacamnya.
Selalu lupa bersyukur.

Padahal 5 tahun menakjubkan itu, membuatku selalu bahagia, bangga pada diriku.
Karena aku tahu saat-saat itu Tuhan selalu bersamaku.

Lalu kenapa aku harus bersedih sekarang?

Memangnya Tuhan sudah meninggalkanku? Tidak, kan?

Terima kasih telah mengirim malaikat, Tuhan. Hm… mungkin one day aku akan memenuhi permintaannya untuk berkunjung ke rumahnya di Depok.

Alin, namanya. Sudah ngelantur ke mana-mana baru aku menanyakan namanya, heeeee

I love Allah.

I love Allah for giving me life.
I love Allah for giving me this faith.
I love Allah for showing me the right way, always.
I love Allah for giving me mom and always keeping her. I love Allah for giving me mom and always keeping her.
I love Allah for giving me dad and always keeping him.
I love Allah for giving me brother and sister to accompany me.

I love Allah for placing me in this company so I can raise my family.

I love Allah and that’s enough for my life.

4 Non Blondes – What’s Going On

28 Nov

Monday, 28 Nov 2011, 7:25 am

Lately I like watching to The Kitchen Musical. It is a drama with comedy and musical touch, and in the end of every episode always show several beautiful-delicious foods. So much stuffs there. Although there are some scenes disturb me, I’m alright generally, even like how they recycle and express for the songs.

One of the song that I often listen, but I didn’t know what the song means until I watch an episode of The Kitchen Musical is… What’s Up.

This song is played by 4 Non Blondes, I know nothing about this band, but I’m agree with the lyrics.
Here is “What’s Going On”:

Don’t too serious by the way. Here is the song that Indonesian’s creative people made on 90′s for parody of What’s Going On.

Here is” Lampu Neon (Hemat Biaya)”:

Writing Skill Workshop

23 Nov

Rabu, 23 November 2011, 7:32 am

I’ve got one more proof that my feeling about my passion is right. Yes, I really love learning. And in God’s hands, He has arranged me to several trainings, workshops, seminars, meetings, and other kinds of getting knowledge which not all person in my office could get it.

Yesterday, for two days, I learned about writing. The name of the workshop is “Professional Writing Skills Workshop”. It’s so amazing. Why?

First, cause I didn’t know before that there was any workshop like this in my office. My friend who knew about this didn’t tell me and just register her name silently. Haha. Allah knows. I’m so thankful that I am indeed who was chosen to be the trainee. He’s so great like I always said in my prayer.

Second, cause it is really-really something new. But so threatening and full of joy.

PLN is a corporation with a quite wide range of ages of its employees. It is so hard for Human Resources Department to fill a position that maybe is suitable for person in the range of age 30 until 40. There are so many people here above 50, and the generation below is in the range of 20. So.. far, right?

So, one of the way to fill this interval and to keep the knowledges in the senior minds still alive, we have to document it. How to do that? To make an acit book.

All of the trainees is suggested to find someone they related to (and of course related to their job too), to be a source to get as much as possible knowledges to be written. Amazing.

I’ve found not only one. Surprisingly, I don’t wanna get anyone in my place to be the source of my book. In my older page I’ve told how difficult people here to share knowledge like they’ll gonna accepted in heaven if they keep their their knowledges as much as possible in their mind only. Sorry to say this. But insya Allah I’ll tell the truth here.

I’ve known people who can share and for addition I’m gonna get any references from documentation and google of course.

I think I need to share two new knowledges I got from the workshop. Here we go.

First. What to Write.

If you need to make sure that your reader will read your writing from the very beginning until the end, you can choose one or more from these seven items to be blended in your writing.

a. actual. The more updately writing in time or related to something booming at time you make, the more people will be attracted to it.

b. close. The closer issue you write with the reader, the more he will be attracted to it.

c. Big Name. My trainer said that is why, artist magazine that told about artist who does nothing will always still be attractive.

c. Unique. If you write something people never write, you’ll get attention.

d. Human interest. You can write something that you thing will be interesting enough for human to make your writing booming.

e. Conflict. This is Indonesian’s favourite. Write something sad, bloody, pity, then people (in Indonesia) will take a time to attent.

f. The influences. If your writing could influence something feeling or thinking, people will be attracted.

Second. How to Write.

There area 5 kinds of writing:
a. Narrative. Just writing like telling again with your own words what has happened.

b. Opinion. You could put some facts, then write your opinion about the facts.

c. Review. There are many kinds of reviews nowadays; films, music albums, books even cullinary/foods. Just telling what you feel and think then write a words of recommendation if you wanna recommend it.

d. Article. This kind of writing needs 5W1H’s stuufs. It’s gonna be the most serious writing because you need to put every sources you get in your writing.

OK. That’s all for today. I’m glad I can finish this page in a half of an hour, as long as what I thought before. Time’s up, working :)

PS: btw, it’s joyful working after writing your mind, hehehe

Pergeseran Momen

22 Nov

Selasa, 22 November 2011, 9:54 pm

Sampai seumur ini aku masih percaya Tuhan menganugerakan orang tua sebelum kelahiran manusia agar orang tersebut menjadi contoh dan pemberi ilmu terdekat bagi manusia baru tersebut. Aku pun percaya, orang tuaku adalah filter terbaik dalam hidupku.Kadang pendapat, kadang aksi. Apa yang mereka tunjukkan setelah aku menunjukkan sesuatu menjelaskan reaksi mereka.

Beberapa keluarga mendiskusikan dulu semacam visi misi dalam keluarganya. Kesederhanaan cara berpikir kami tidak akan sampai pada diskusi semacam itu. Tapi aku tahu yang kedua orang tuaku inginkan hanyalah kebahagiaan anak-anaknya. Mulai dari sekolah kami yang sejak sekolah dasar berbeda sendiri dengan teman-teman seumuran di kampung demi pendidikan yang bagus, kebutuhan buku yang selalu ada dengan cara apa pun diperoleh (meminjam, membeli bekas, foto copy, dll), mama yang seminggu sekali secara diam-diam membersihkan kamar kami masing-masing, semuanya merunut pada sebuah titik sasaran; agar kami anak-anaknya bahagia. Namun, tujuan sederhana ini telah mendapat persetujuan total dari seluruh anggotanya. Maksudku, kami tak pernah menyampaikan bahwa kami setuju kalau kami dibahagiakan atau bagaimana, kami tahu saja dengan sendirinya. Karena tahu, kami pun setuju dengan sendiri. Apa yang dilakukan orang-orang yang satu tujuan dalam sebuah komunitas? Yap, mereka akan bekerja sama mencapai tujuannya.

You don’t miss your water ’til the well runs dry. Sebuah pergeseran yang besar baru saja kusadari, dan aku merindukannya.

Saat aku masih tinggal di rumah, hampir tiap hari aku terbangun di shubuh karena suara mama papa. Benarlah kata Tika, temanku. Jika ayah dan ibunya bertemu (bahkan saat bergotong royong mencuci baju anggota keluarga), yang mereka bicarakan pastilah anaknya.

Begitu juga suara di shubuh hari itu. Aku paling sering dibicarakan, kadang-kadang adik perempuanku, kadang juga adik laki-laki ku, bergantian saja (tapi tetap aku yang paling sering, hehe). Seperti review permainan bola beserta analisis dan opini, mama papa sering membahas kembali segala keluhan dan pujian hidupku yang tadi malam atau kemarin kusampaikan (aku paling sering cerita apa saja di rumah). Kalau mereka menyentil-ku dengan pujian dan tertawa, aku juga pura-pura tidur dengan tersenyum. Tapi kalau mereka bilang ada yang salah denganku, pasti aku dengarkan dengan seksama di sebelah mana salahku.

Saat euforia hidup sendiri sedang tinggi-tingginya begitu aku pindah ke Jakarta, aku benar-benar lupa ada momen berharga seperti itu (selain itu sepertinya kopassus juga telah membuatku amnesia akut). Baru saat terakhir aku pulang kampung dan tidur di kamar yang sama dengan kamar sebelum kutinggalkan, aku terbangun di shubuh hari oleh pembicaraan mereka. Saat itulah aku sadar, inilah yang hilang.

Memang sudah waktunya bagiku untuk menentukan sendiri apa-apa di depanku.Tapi aku tak mau kehilangan filter, bagaimana pun aku tahu ego ku masih tinggi. Cukuplah jawaban yang mereka katakan di telepon setelah sehari sebelumnya ku tanyakan mengenai keputusanku menjadi gambaran hasil diskusi mereka di shubuh hari tentangku.

I love you mom, dad, forever and ever.

3 Pusaka Kebajikan

25 Oct

Ingin Share sesuatu yang jauh lebih berharga untuk ditulis di blog ini sebagai pengingat dibanding di-tweet.

Seorang teman mendapati status temannya dan kemudian share pada saya via YM, nasihat kebaikan dengan judul “3 Pusaka Kebajikan”.

At-Thabrani meriwayatkan tiga hal yang termasuk pusaka kebajikan adalah:
1. merahasiakan keluhan
2. merahasiakan musibah
3. merahasiakan shodaqoh

Zup zup zupper sekali kan?!

The Heartbeat

16 Oct

The beat.
I love listening to the beats made by human.
But rarely listening to the beats made by Him.
The beats of a heart.

These beats were heard from inside the mom’s womb
These beats made her surprised.
These beats was heard by dad.
These beats made him proud.

Then the beats going faster when the soul was seeing the world for the first time.
“Oh, so this is the world”, it said.

Then the beats go slower for some feelings.
Care. Patience. Sadness. Disappointment.
The the beats go faster for some feelings.
Falling in love. Anger. Happiness. Surprises.
Then the beats go slower then faster then slower then faster over and over again.
When the soul’s seeing the truths and the lies.
Oh, what a fake place this world is.

The soul is in its seeking.
“Where’s the place that not fake ?”

Oh, mom, you love me that much.
You are the truth one.
Then the heart smiles.
The heart beats regularly.

Oh, dad, you teach me many things.
I know you love me even though so difficult for you to say.
You are the truth one.
Then the heart smiles.
The heart beats regularly.

Oh, little sister, do you know what’s the mean of your name?
Do you know that this world is difficult to be conquered?
You should be strong!
One day you’ll make the world learn the honesty from you.
The heart beats faster.

Oh, little brother, you’re so good in drawing.
Can you draw something for me?
You’re skilled but you still have to learn much.
One day you’ll become a guardian.
The heart beats slower.

Oh, The Owner of the heart.
The One that makes every heart beats.
Would You please save me?
I know I might be wrong, but would You please save that four persons?
Too narrow-minded? Well, at least that’s what this heart beating for, after You and Your prophet.
Please?

Oh, The Owner of the heart.
Would You please help me understand why it is pounding out of my control sometimes?
Would You please teach me how to control it?
Please?

I’m on my way of getting closer to You, You know.
Understanding why it beats like this then like that.
Falling then crawling then standing then running.
Then coming back to You.
For everyone I love.

I know it means nothing when You stop the beat.

Anastasia’s Octobers

7 Oct

OCTOBER SIX YEARS AGO

We spent time together to get to our ‘basic majors’ classes. It far enough from our faculty’s class. We spent time together in her room to find my favourite comics, sing together with Kaka (our friend), take a nap in our leisure college time, and do our first year projects.

I invited her to take a rest a Manarul Ilmi Mosque (mosque in our campus), shared our story while taking a lunch. Many times I found her and her paper. Any book’s paper, Anytime, Anywhere, if she would (and she loved to do that) she drew any outfit’s designs. She was really great about it as far as I know.

OCTOBER TWO YEARS AGO

Anastasia and me wore out graduation outfit in black, blue and grey. Inside it we spent hours for wearing Kebaya. Make sure we had fixed out hair. Make it so complicated (and rather heavy) but beautiful enough to see. We walked in a row to come on the stage then we got out certificate: Computer Bachelor. That day would be the best day of the year.

Several months later, I left her to walk on my path, as an employee. Anastasia was still on the way of making her mind. She still in her thought, never again risk her life in a 8am-5pm time. Time is free. She decided to make her own dress and via facebook. I had been far away, but still get her notification about her new collection as if I really notice about style.

OCTOBER ONE YEAR AGO

I’m really bad at keeping in touch with friends. I just know that Anastasia took a design’s course. And that’s amazing, until now I still think that it’s amazing. She and her passion, she and her willingness, she and her dream. Even though she knew it would mean that she had to keep her computer bachelor certificate and forget it.

I’m proud of her.

THIS OCTOBER

She invited me to come to her design school’s event, a Fashion Show in a mall. It is really the very first time for me to come in a Fashion Show event. I was uncertain with what kind of outfit that I had that would be suitable to be wore at that event.

Last night after work I came with Kaka. We were so late. Her outfits had come up. But she told me about her design and promise me will send the postcard that printed her designs. Her designs were casual with jeans and inspired by the mechanics uniform.

But we still had a chance to see about a hundred designs made by herself. Then finally I know how it feels like being an audiences of a Fashion Show event. It was so great. They’re really creative. And the models? Wow, like angels: tall, beautiful, skinny even though they were difficult to smile.

We talked much while our dining. She shared her dream. Willingness to go to Australia to study more then opened her own kid outfits’ boutique.

I wish she’ll get it. One day, in a Grand Indonesia Mall, there will be some displays window filled by kid’s outfits and a slice of glass written ‘Anastasia’.

That will be in the next Octobers.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.