Pernah punya buku favorit atau penulis favorit?
Selama beberapa tahun terakhir saya mulai intens mencari buku-buku bagus, saya dapatkan salah satu penulis yang menarik. Tulisannya bagus sekali, sangat mengalir dan idenya original. Pernah mendapatkan buku yang baru saja membaca sudah langsung merasa tersedot dalam pusaran seperti ada di sebuah lorong dan mengikuti kisahnya hingga saat mendongak dan berhenti membaca baru sadar di mana sebenarnya dari tadi berada. Tere-Liye nama penulis itu. Dua bukunya yang saya baca adalah Ayahku (Bukan) Pembohong dan Rembulan Tenggelam di Matamu. Saya percaya keberadaan Tuhan dalam hati membuat apa yang kita kerjakan menjadi bermakna dan berharga, salah satunya dengan tulisan.
Saya ingin mencuplik satu-dua cerita dalam bukunya yang sarat ilmu dan pemikiran di sini, namun sejujurnya saya takut mungkin saja yang seperti ini bisa melanggar kode etik dan semacamnya. Namun ketakutan saya rupanya jauh lebih kecil dibanding semangat saya untuk sharing ilmu dari buku-buku Tere-Liye yang saya baca, semoga bermanfaat. Insya Allah hanya ingin berbagi untuk kebaikan bersama.
Perumpamaan Penjagaan Hati
Ada secuil pertanyaan yang saya mengerti namun tidak mampu terlontar dalam kata-kata apalagi kalimat. Saat sedang sedih, sebentar tertawa, sebentar sedih lagi, dan saya merasa dipermainkan. Pernah merasa bahwa sepotong hati atau jiwa atau apalah itu namanya sangat mempermainkan hidup? Saya pernah. Tapi saya tak pernah bisa bertanya pada Tuhan, diam saja. Karena saya tak tahu bagaimana caranya bertanya, karena mungkin yang seperti ini hanya perasaan saya saja. Eh, saya temukan jawabannya di salah satu buku Tere-Liye, dengan gaya bahasa cerita.
Alkisah seorang pemuda pergi mencari seorang sufi, bertanya pada seorang guru sufi di sana. “Apakah hakikat kebahagiaan hidup itu? Sebenarnya apa sih bahagia itu?”
Kalau di negara tempat kita hidup ini, bahagia seringkali identik dengan uang banyak, istri banyak, anak pintar, ada di kota dan negara yang berbeda setiap malamnya, selebritis, macam-macam. Sangat relatif. Sufi yang banyak berpikir tentang filsafat dan makna kehidupan ini menyuruh pemuda tersebut membuat sebuah danau di tanah yang amat luas. Bukan asal danau, airnya harus jernih sejernih mata air.
Memangnya dengan membuat danau pertanyaan pemuda tersebut bisa terjawab?
Seperti halnya sifat pemuda, walau tak mengerti, tetaplah berangkat. Pemuda itu mulai mengeruk tanah, berkubang setiap hari. Proses pengerukan baru selesai saat kedalaman telah mencapai 3m dan dengan luasan seluas lapangan bola. Proses selanjutnya adalah membuat parit-parit dari mata air yang ada di hutan, mengalirkannya ke lubang danau. Jadilah, danau.
Sang guru akan datang menengok esok hari. Tapi malam ini hujan turun. Sumber mata air dari danau jadi kotor. Saat sang guru datang esok harinya, yang dilihatnya adalah danau yang airnya keruh. Sang guru member pemuda tersebut kesempatan. Ia akan datang menengok setahun lagi.
Pemuda itu membuat saringan di setiap parit agar air keruh dari hutan jadi jernih saat masuk ke danau. Tidak setitik pun air keruh boleh masuk ke dalam lubang danau.
Setahun berlalu, sang guru datang menjenguk, pemuda itu tersenyum senang dengan hasil karyanya. Sang guru meraih sepotong bambu panjang, menusuk-nusuk dasar danau. Lantai danau yang terbuat dari tanah langsung mengepul mengeluarkan lumpur kecoklatan. Dalam sekejap, danau tak jernih lagi. Sang guru meminta pemuda itu berpikir lagi dan akan datang setahun lagi.
Selanjutnya pemuda itu mengeruk lagi dan lagi, jauh lebih dalam hingga menyentuh dasar bebatuan, menyentuh mata airnya. Tiga tahun pengerukan itu baru selesai. Semua parit akhirnya ditutup. Danau itu hanya mengalirkan air dari mata airnya sendiri.
Sang guru datang menengok. Ia tertawa melihat danau berair jernih seperti air mata. Tidak mengepulkan tanah lumpur meski ditusuk-tusuk dasarnya, dengan segera cepat jernih kembali meski ada parit yang bocor.
Itulah hakikat kebahagiaan hidup. Membersihkan dan melapangkan hati. Kebahagiaan sejati datang dari mata air diri sendiri, bukan dari luar. Kebahagiaan dari luar dengan cepat akan hilang lagi. Berbeda dengan mata air yang dimiliki sendiri. Hati dilatih menjadi lapang dan dalam, hingga bahkan saat musuh yang menyakiti mendapat kebahagiaan pun, kita ikut bahagia, karena kelapangan hati. Hati dilatih menjadi cepat jernih kembali meski ada kebocoran parit. Kabar buruk tidak akan membuat sedih, cepat bahagia kembali dari mata air sendiri. Itulah kebahagiaan sejati. Caranya dengan melatih hati.

Wah.. bagus ya kayaknya buku ini…
Saya jadi pengen baca…