Pada bagian dua ini, masih dari penulis yang sama, Tere-Liye. Ada pelajaran yang ingin saya sampaikan dari hasil membaca.
Untuk Apa Hidup yang Monoton?
Terserahlah mau bilang apa pada hidupmu. Saya belajar setiap hari, saya menemukan hal-hal baru setiap hari, hidup saya tak monoton. Atau bilang saya adalah pengusaha, saya sangat terbiasa dengan ketidakpastian, setiap hari ada saja yang berubah, hidup saya bervariasi. Apalah itu, akuilah bahwa sebenarnya ada bagian yang monoton. Minimal adalah saat bagun tidur, beranjak tidur, dan sholat lima waktu. Mau dipungkiri juga terserah. Itu pemikiran saya. Dan saya yakin tak pernah ada manusia tak pernah merasakan masa-masa monoton, minimal saat dia masih bersekolah.
Mengapa harus merasakan hidup monoton? Karena dari kehidupan monoton ada variasi-variasi dari kecil hingga besar setiap harinya. Tuhan menciptakan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun, jumlah tahun umur kita, tapi tak ada dua hari pun yang sama persis kejadiannya. Di sinilah variasinya.
Dan variasi ini mengandung hukum kausal, sebab-akibat. Dari Bapak JamilAzzaini saya dapatkan pemahaman bahwa energi dapat diciptakan, tak dapat dihancurkan, yang ada adalah mengubahnya jadi bentuk lain. Kala di sekitar kita yang ada adalah energi positif, maka itulah yang keluar dari diri kita, energi positif. Suatu saat, energi positif yang kita keluarkan akan kembali pada diri kita, kausalitas.
Saat kita sedang marah, atau sedih dan mengubah energi positif menjadi energi negative, maka ini pun akan kita peroleh di suatu saat nanti, energi negative yang kembali.
Melakukan kebaikan akan kembali mejadi kebaikan bagi pelakunya, begitu pula dengan melakukan keburukan.
Sama dengan cara berpikir Tere-Liye dalam bukunya. Semonoton apapun kita dalam hidup ini, bahkan tua renta tak bisa apa-apa, tak berguna, kita memiliki sebab dan akan menjadi akibat bagi kehidupan orang lain. Misalnya dengan merawat ketua-rentaan kita yang tak mampu apa-apa ini, seseorang mewarat dengan tulus ikhlas dan kemudian ia diganjar surga oleh Tuhan. See? Tak ada yang sia-sia. Hidup saya juga, hidupmu juga, apa pun juga yang ada di langit dan di bumi. Tuhan Maha Tahu. Kami hanya bisa memikirkan.
Apa Hidup Ini Adil?
Seringkali kita lupa pada kerelatifan hidup di sana-sini hingga masih mempertanyakan apa hidup ini adil. Masih melihat pemalas tapi tetap saja kaya sedang saya sebaliknya atau perjuangan saya jauh lebih banyak disbanding dia, tapi saya tak dapat apa-apa, macam-macam.
Saya selama beberapa tahun terakhir sudah berhenti bertanya macam ini. Karena semakin dewasa semakin saya menemukan bukti-bukti bahwa hidup ini adil. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana akibat yang dialami orang-orang berdasar perbuatannya dulu.
Keadilan dalam hidup saya yang tak mungkin saya pungkiri adalah, hingga sekarang saya masih punya ayah-bunda dengan cinta yang tak pernah habis, yang masih saja memperlakukan saya seperti anak kecil meski berkali saya bilang saya bisa sendiri. Sudah orang teman yang mengatakan saya manja, karena setiap kali menelepon mama-papa, saya menceritakan semua yang saya alami, gamblang dan detil. Dan mama-papa saya menjawab seperti sahabat sendiri. Saya sangat bahagia, kebahagiaan ini menghapus semua rasa sakit yang pernah ada. Ya, hidup ini adil bagi saya.
Cobalah hitung (jika mampu) jumlah nikmat Tuhan dan jumlah keburukan yang ada selama hidup. Meski saya yakin kita tak mampu menghitung, sebenarnya semuanya impas. Apa yang kita peroleh hari ini adalah hasil perbuatan kita yang lalu-lalu. Dan apa yang kita usahakan hari ini menentukan siapa kita esok hari.
Inilah yang sedang saya kerjakan. Mendokumentasikan pemikiran-pemikiran bagus, bukti dan Firman Tuhan, agar selalu dapat saya ingat di esok hari.

Recent Comments