Bagian tiga, masih menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup dari salah satu judul buku penulis favorit saya, Tere-Liye.
Apa Itu Takdir?
Salah satu iman (kepercayaan) kita adalah iman kepada qadha-qadar. Percaya pada takdir. Percaya bahwa takdir itu memang ada (haq).
Saya pernah dengar, entah di mana, bahwa saat ruh manusia ditiupkan dari Tuhan dengan perantaraan malaikat, saat itu pulalah takdir hidup dilukiskan.
Dari berbagai seminar, buku, artikel dari pekerjaan yang sedang booming dewasa ini, motivator ( yang kadang terlalu optimis hingga terkesan sombong menurut saya ), sering dikatakan bahwa kitalah yang menentukan takdir, jika pun bukan begitu maka mereka berkata, kitalah yang mampu mengubah takdir. Apalah itu semua, wallahu ‘alam.
Saya hanya berpegang satu kalam Tuhan, “Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves” (QS Ar Ra’du:11). Jelas, Tuhan tak akan mengubah keadaan suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengusahakan perubahaan itu sendiri. Jangan ditambahi, jangan dikurangi. Biarlah arti dan maknanya sama persis dengan kalimat Tuhan.
Apapun takdir kita, alangkah indahnya jika pada akhir kehidupan kita di dunia, kita memperoleh apa yang menjadi tujuan hidup kita. Manusia akan memperoleh apa yang diusahakannya, jika Allah menghendaki. Maka carilah tujuan hidup tertinggi dan terindah. Hidup dan mati sia-sia adalah rugi besar, naudzubillahi min dzalik .
Maka tetaplah kuat, tetaplah fokus pada tujuan hidup. Because life is nothing without the the purpose. Karena Tuhan Maha Mendengar, tak perlulah kita menggembar-gemborkan tujuan kita, keinginan kita, apa yang sedang kita usahakan, apalagi mempengaruhi tujuan orang lain karena tujuan ia tak sama dengan kita. Berbagi kebaikan, berbagi ilmu disukai Tuhan, jangan sampai tergelincir lebih dari itu. Insya Allah, mari kita belajar fokus bersama.
Seorang ustadz pada sebuah kesempatan mabit(bermalam di sebuah masjid) yang indah karena Allah, menjelaskan bahwa manusia mengalami 2 kali mati, 2 kali hidup.
Mati -> Ditiupkannya ruh hingga hidup di dunia -> Mati dan terkubur di perut bumi -> Hidup lagi di hari Hisab (perhitungan).
Jadi, di manakah tujuan itu harus diletakkan dan di tahap manakah kita bisa mengusahakannya? You’ve got the answer, right?
Mengapa Tetap Kosong Meski Punya Banyak?
Kita seringkali menyangka alangkah menyenangkannya menjadi dia, yang begini dan begitu, sedang saya tidak.
Ha, saat kita mendapat semua yang “dia” miliki apakah lantas kita bahagia?
Kosong adalah saat saya punya lebih dari cukup materi untuk kehidupan saya sendiri, membantu adik-adik saya, mengubah style dandan, makanan, hingga style of life, tapi saat semua digenggam, terasa biasa saja, kosong.
Satu tahun pencarian jawaban mengapa tetap kosong akhirnya saya temukan dengan bantuan teman-teman saya yang dengan ijin Tuhan menjadi teman sharing, berbagi ilmu, mencari bersama. Alhamdulillah, pertanyaan itu sudah mampu saya jawab hari ini (dan anehnya, jawaban saya sama dengan apa yang ditulis Tere-Liye dalam bukunya).
Kosong adalah saat kita tak mampu bersyukur. Terjebak di kedalaman keinginan duniawi. Ingin begini, setelah itu ingin yang itu, kemudian yang di sebelah sana. Tak selesai, tak akan pernah. Seperti anak kecil yang selalu iri dengan barang mainan temannya, akan selalu iri.
Syukur adalah ilmu yang dibawa Rasulullah yang berkata betapa indahnya Islam, semuanya adalah kebaikan. Saat bahagia bersyukur, saat bersedih bersabar. Tanpa disadari syukur itu ilmu wajib. Indah. Insya Allah.
Mengapa Hidup Harus Merasakan Sakit?
Ah, apa benar memang sakit? Saat kita merasa sangaaaat bahagia, ah, apa benar sebahagia itu?
Hidup itu relatif. Titik.
Ada yang bilang, rasakan sakit agar dapat merasakan bahagia.
Tapi sebenarnya semuanya relatif. Kita terbiasa membesar-besarkan masalah dan mengecilkan apa yang sebenarnya harusnya dipandang besar. Memandang sakit padahal ada kebaikan di baliknya. Merasa sakit padahal masih ada yang lebih tidak beruntung. Mengeluh sakit padahal orang lain yang sama persis keadaannya merasa itu biasa-biasa saja. Nah?
Sama seperti jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Pandai-pandai bersyukur saja. Saat di atas, lihat yang di bawah, saat di bawah, jangan putus asa pada rahmat Tuhan, ada harapan seperti yang ada di atas. Cycling. “Life is a wheel”. Sudah bosan dengar quote tersebut, kan?!
Ending
Semoga bermanfaat. Saya hanya ingin sharing. Insya Allah.
Recent Comments